![]() |
| Malala Yousafzai saat dilarikan ke rumah sakit |
Perlawanan Malala Yousafzai dalam ketertindasan perempuan di Pakistan
menempatkannya sebagai putri terbaik di dunia. Keberanian dan perlawanan
gadis 15 tahun ini membuat dia sejajar dengan tokoh dan pemikir
sekaliber, Aung San Suu Kyi dan Hillary Rodham Clinton.
Majalah
kenamaan di Amerika Serikat (AS) Foreign Policy (FP) mendaulatnya
sebagai salah satu tokoh dan pemikir global tahun ini. Nominasi tersebut
diumumkan saat Senin (26/11). Seperti dilansir dari situs resminya, FP
menempatkan ide dan pemikirannya lebih unggul dibandingkan Presiden AS,
Barack Obama.
Majalah politik yang didirikan oleh Samuel
Huntington tersebut menempatkan gadis Lembah Swat ini sebagai tokoh dan
pemikir global keenam, setelah Bill Gates dan Melinda Gates.
Ide
dan gagasan pendidikan yang diperjuangkan Malala sebenarnya bukanlah
hasil radikal yang menuntut perubahan dunia. Namun dengan melawan 60
persen persen buta huruf perempuan di Pakistan secara mandiri dan
membuatnya hampir terbunuh adalah satu prestasi.
FP menyebut Malala sebagai musuh dan martir perlawanan terhadap totalitarianisme Taliban yang merayap ke kampung halamannya.
Malala
menjadi buronan bagi Taliban. Dia mengkampanyekan pendidikan melalui
tulisan dalam sebuah blog yang disiarkan BBC saat dia berumur 12 tahun,
yakni pada 2009 silam. Dalam tulisannya dia menggambarkan situasi kelam
Lembah Swat dalam penguasaan Taliban.
"Adik saya lima tahun
sedang bermain di halaman rumah. Ketika ayah bertanya, apa yang kamu
buat? Adikku menjawab, 'saya sedang membuat kuburan'," demikian ditulis
Malala dalam salah satu tulisan di blognya.
FP mensejajarkan
kampanye dan curhatan Malala dengan buah tangan Annelies Marie Frank
(1929-1945), yang menuliskan dalam buku hariannya tentang ketertindasan
Yahudi saat Nazi merangsek ke Belanda saat Perang Dunia ke-II.
Pada
Oktober lalu, seorang pria muda dengan senjata laras panjang
mendapatkan Malala dalam sebuah bus yang hendak mengantarkannya pulang
dari sekolah. Peluru tajam dari senjata tersebut menembus kepala dan
leher Malala. Malala sempat koma selama sebulan sebelum dilarikan ke
Rumah Sakit Queen Elisabeth di Birmingham, Inggris.
Keberaniannya
masih dibutuhkan untuk menginspirasi manusia lainnya berdiri melawan
ketertindasan. Internasional juga mendaulatnya sebagai gadis yang pantas
menerima Nobel Perdamaian, ketimbang anugerah tersebut jatuh ke Uni
Eropa.
Sumber: Republika.co.id


Post a Comment
Post a Comment