Dilema Guru Dalam Mendidik Anak Millenial Generasi Cengeng

Post a Comment




Hakim cium tangan guru SD nya.



Di era generasi milenial ini seorang guru sering dihadapkan dengan anak didik generasi cengeng.



Ketika
mereka melakukan pemukulan ringan dengan tujuan untuk mendidik, maka
mereka sering dihadapkan dengan HAM dan protes dari wali murid. Padahal
pemukulan oleh guru adalah demi mendidik seorang anak agar tidak
mengulangi kesalahan dan agar lebih disiplin. Karena proses mendidik itu
lebih dari sekedar mengajar.



Tapi seringkali tindakan guru tersebut dianggap melanggar HAM hanya karena telah melakukan hukuman fisik terhadap anak didiknya.



Bukan
bermaksud melindungi dan membenarkan tindak kekerasan guru terhadap
anak didiknya, tapi sebagai wali murid kita harus jeli dan bisa
membedakan antara proses pendidikan dengan tindakan kriminal.



Jangan
hanya karena merasa dilindungi oleh HAM kita sebagai wali murid menjadi
lebay, sedikit-sedikit lapor polisi dan sebagainya. Padahal HAM tidak
akan bertanggung jawab ketika anak kita rusak akhlaknya.



Sebuah Pelajaran Berharga untuk Para Orang Tua Murid



Ada
seorang hakim yang mengejutkan banyak orang di ruang sidang. Beliau
membebaskan terdakwa lalu bergegas meninggalkan tempat duduknya untuk
turun lalu mencium tangan si terdakwa.



Terdakwa yang
ternyata seorang guru SD itu juga ikut terkejut dengan tindakan hakim.
Namun sebelum berlarut-larut suasana keterkejutan itu, sang hakim
mengatakan,

“Inilah hukuman yang harus kuberikan sebagai rasa terima kasihku kepadamu, Guru.”



Rupanya,
terdakwa itu adalah guru sang hakim sewaktu SD dan hingga kini sang
guru masih mengajar SD. Beliau menjadi terdakwa setelah dilaporkan oleh
salah seorang wali murid, gara-gara ia memukul salah satu muridnya.



Sang
guru sudah tak mengenali muridnya yang menjadi hakim itu. Namun sang
hakim masih mengenali dan tahu persis bahwa pria tua yang duduk di kursi
pesakitan tersebut adalah gurunya.



Sang hakim yang
dulu pernah menjadi murid dari pak guru tersebut mengerti benar, bahwa
pukulan dari guru itu bukanlah kekerasan. Pukulan itu tidak menyakitkan
dan tidak melukai. Hanya sebuah pukulan ringan untuk mendidik dan
membuat para muri lebih mengerti akhlak dan menjadi lebih disiplin. Dan
pukulan seperti itulah yang mengantarnya menjadi seorang hakim seperti
sekarang.



Dahulu sewaktu kita “nakal” atau tidak
disiplin, seorang guru sudah terbiasa menghukum kita, bahkan mungkin
pernah "memukul, menjewer atau mencubit " kita. Kemudian saat kita
mengadu kepada orangtua, mereka lalu menasehati kita dan terkadang kita
tambah dimarahinya.



Jadi hampir tak ada orangtua yang
menyalahkan guru karena telah menghukum anak kita, karena mereka
husnuzzon dan percaya bahwa itu adalah bagian dari proses pendidikan
yang harus kita jalani. Buahnya, kita menjadi lebih disiplin, lebih
mengerti sopan santun. Kita bisa tumbuh menjadi generasi yang tidak
cengeng dan menjadi pribadi-pribadi yang sangat menghormati para guru
dan orangtua.



Namun saat kita menjadi orangtua di zaman
now, sering kita temukan berita wali murid melaporkan guru karena telah
menghukum anaknya di sekolah.



Hingga menjadi sebuah
fenomena, guru-guru terkesan membiarkan semua kelakuan siswanya. Tugas
mereka hanya mengajar saja, menyampaikan pelajaran lalu selesai. Tugas
utama mereka bukan lagi mendidik. Fungsi pendidikan sudah pasti akan
hilang jika tidak ada kerjasama antara guru, orang tua dan masyarakat.



Jangan
salahkan guru jika para murid sekarang kurang mengerti akhlak dan hasil
pendidikannya tidak seperti yang diharapkan orang tua, karena mereka
takut dilaporkan oleh wali murid seperti yang dialami teman
seprofesinya.



Sudah banyak kasus yang terjadi, seperti
beberapa guru di Sumatera Selatan telah dilaporkan wali murid dan harus
berurusan dengan polisi.



Di bantaeng ada guru
dipenjarakan, di Jawa Tengah, guru SD mencubit siswanya juga
dipidanakan, hampir semua berlindung atas nama HAM atau undang-undang
perlindungan anak. Tapi ketika moralitas anak hancur dan akhlak generasi
bobrok, pernahkah HAM membuat aksi nyata memperbaiki moral dan akhlak
anak bangsa?



Semoga kita para orangtua atau wali murid,
bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan para guru, bersinergi
menyiapkan generasi masa depan yang berakhlak mulia. Bukan menjadi
generasi cengeng dan lebay.



Related Posts

Post a Comment

close