Tradisi Mencari Kutu Rambut (Petanan) Sebagai Interaksi Sosial Masyarakat Tempi Dulu

Post a Comment
Di era modern ini sangat sulit ditemukan adanya orang-orang yang asik berbicara, bercerita dan menghabiskan waktu bersama tanpa terlepas dari gadgetnya. Namun, dalam tradisi masyarakat tempo dulu, mereka bisa melakukannya dengan asyik, berbincang-berbincang sambil mencari kutu rambut alias petanan.

Mencari kutu rambut yang dalam bahasa jawa disebut “Petan” merupakan salah satu budaya masyarakat pribumi tempo dulu khususnya kaum hawa. Dengan aktifitas ini, mereka para emak bisa bertahan hingga berjam-jam sambil “klethas-klethus mlithesi tumo, kor lan lingso”.

Biasanya mereka melakukannya di waktu senggang seperti setelah memasak atau membereskan pekerjaan rumah.

Tradisi petan juga merupakan bagian dari interaksi sosial antara seseorang dengan tetangganya. Interaksi sosial ini biasanya dibumbui dengan perbincangan hangat yang menjadi kontrol sosial pada waktu itu.

Kini "Petanan" (Tjari Koetoe) telah menjadi kebiasaan yang hilang.

Dahulu sebelum mengenal "Shampo", masyarakat menggunakan “merang” yang dibakar lalu direndam dalam air, disaring airnya kemudian digunakan sebagai shampo untuk mencuci rambut.

Konon kata Shampo berasal dari bahasa "Hindi" champo, bentuk imperatif dari champna (memijat).

Related Posts

Post a Comment

close